Yup!
Finally I had a chance to go to Semarang to visit my sister. She is studying at University of Diponegoro, taking public health as her major. We're not gonna talk about her now, sorry :)
I like taking chance to explore and discover new place ALONE! Literally alone, by my self. The excitement of being confused and lean on Google or local people might be the ultimate feelings I always search for. Seru!
This time was my chance to explore BRT. The twin of TransJakarta busway.
For the next sentences, I'll write in Bahasa since it is more likely understandable for Indonesian.
Untuk bisa ke halte BRT terdekat dari bandara, kita harus berjalan ke luar bandara, tepatnya dari pintu Kedatangan, langsung jalan kaki ke kiri jalan untuk keluar dari gapura bandara Ahmad Yani. Gak lama dari situ, kita akan menemukan rel kereta dan sekitar 50 meter ke depan, halte BRT sudah terlihat.
Kalau agak lama nunggu sabar aja ya, kayaknya memang armada bus tidak terlalu banyak yang ke bandara. This was really my first time, I was curious back then till I really wanted to wait for it.
Jangan bingung kalau halte nya benar-benar seperti halte bus di Jakarta, bukan halte busway ya, Disana kita ga bisa langsung beli tiket karena ketika masuk busway, nanti ada petugas yang bawa alat semacam EDC untuk kita membeli tiket. Harga tiket BRT 3,500. Nah ini jalurnya kalau mau ke Tembalang.
Ingat! Kita harus senantiasa bertanya arah BRT bakal lewatin Tembalang apa enggak, soalnya untuk first timer kayak gue, asli gue bingung sebenarnya ada berapa warna untuk armada BRT itu sendiri hahaha.
1. Dari Bandara, transit di halte SMA 5 Pemuda (biasanya petugas suka nyebut halte ini sebagai halte Pemuda.
2. Dari halte SMA 5 Pemuda, pindah bus yang ke arah Balaikota (ketika bus BRT datang, petugas selalu meneriakkan halte halte yang akan dilewati oleh bus tersebut), jadi pasang kuping aja.
3. Dari Balaikota transit lagi dan pindah bus yang ke arah Tembalang.
Notes:
1. Setiap kali transit, jangan lupa untuk menyerahkan tiket ke petugas. Biasanya mereka akan menandakan tiket tersebut dengan cara melobangi tiket. Gue rasa ini dilakukan sebagai bukti kalau kita sudah beli tiket dan hanya transit.
2. Petugas BRT selalu siaga buat ngasih tahu kita sudah ada di halte mana. Jadi pasang kuping baik baik ya!:)
3. Dari bandara ke tembalang, waktu yang dibutuhkan kurang lebih satu jam.
4. Kalau masi belum ngerti atau ga yakin, tanya aja! Malu bertanya beneran sesat di jalan loh!
I went here today and had a very short early dinner with my sister.
Every corner of this restaurant is very instagram-able. The concept is really hype. They take black as their own color and believe it or not, it works!
I ordered lemon tea and beef bacon carbonara. My sister had ice green tea latte only.
Lemon tea was so so (I've tasted a better one)
Beef bacon carbonara was the champion! I loved it very much! Although the pasta was not really that cooked (by cooked I mean al dente) and the beff bacon was slightly overcooked but surely it was one of the best carbonara I've tasted so far! If I have my second chance to go to Semarang again, I promise I will be back and rewind the sensation!
Go check their instagram for more cool photos! The link is above!
I really had a short time for my early dinner, so I didn't have so much time to take pictures. My camera also went off due to low battery. It was awful! Since I only had one F and one B menu, I couldn't rate this restaurant. However, it is always worth to come back again!
Getaway dadakan ini terjadi karena adanya promo dari PT. KAI Indonesia dalam menyambut tahun baru Cina dan yup bisa ditebak, tujuan yang paling menghibur dan ga terlalu jauh buat gue adalah tak lain dan tak bukan > Bandung.
Terima kasih untuk PT KAI akhirnya aku bisa balik lagi ke Bandung naik yang eksekutif dan harganya cuma 96k PP :)) Alhamdulillah!
So, karena ada ISP workshop di pagi hari sabtu akhirnya gue pesan tiket kereta yang jam 18.15. Alhamdulillah kereta tiba tepat waktu (as usual). Soal ketepatan waktu bener-bener jadi alasan gue kenapa kereta selalu jadi pilihan. Menurut sebagian orang mungkin tiga jam bener-bener lama tapi dengan tiga jam itu gue malah dapat ketepatan waktu yang pasti. Kalau lewat tol gue harus berhadapan sama probabilitas kemacetan. Dari yang namanya stuck ngantri masuk tol sampai akhirnya (kemungkinan) macet atau harus berenti dulu (kalau perlu) untuk toilet break. Phew!
Kalau di kereta, alhamdulillah lancar!
Sebelumnya gue minta maaf banget kalau posting kali ini, bahasa gue kecampur semua. Buat yang bingung ngapain aja seharian di Bandung, semoga posting ini bisa membantu. Amin!
Sabtu, 13 February 2016
Sekitar jam 21.27 gue sampe di stasiun Bandung dan langsung dijemput oleh sahabat-sahabat gue yang sebelumnya udah sampai di sana duluan.
Kami masih butuh yang manis-manis, jadi kami mampir dulu ke McDonald's simpang dago. Luar biasa itu rame banget di sana, motor berjejer rapih dan as long as we scanned the place, g ada tempat duduk yang kosong! Makin mantap deh buat ambil drive through aja.
We stayed in Hotel Neo Dipatiukur. Got affordable price for a room for two from Traveloka. All I can say that it was lovely, great and highly recommended to stay at. The service was good, printilan kecil pun were beautifully taken care by their team. I can declare now that if I want to go to Bandung with my family, Hotel Neo will be at my first choice!
But wait..
Minggu, 14 February 2016
Dipatiukur termasuk kawasan yang lively sama kendaraan. I mean dengan jalanan sebesar itu, durasi traffic lamp di sana ga sebanding sama volume kendaraan yang ada. Dari Hotel Neo yang menurut gue lumayan dekat sampe simpang Dagopun, kita harus nunggu selama kurang lebih 30 menit buat akhirnya survive ngelewatin traffic lamp. Phew!
Armor Kopi, Taman Hutan Raya
Satu kata ketika kami sampai di sini. SEJUK! ...
... PARAH!
Angin sepoi-sepoi yang kental bercampur dengan dendang dari serangga-serangga penghuni hutan tambah bikin taman ini jadi apik pisan! This is what we will get when we can live peacefully with nature without torturing them by cutting them off from mother earth. I wish for the next decade, taman ini bakal terus masih ada. Kata Ade, Tahura ini jauh lebih besar dibandingkan Kebun Raya Bogor loh! Plus hutan ini bukan hutan buatan! Sedap!
Karena saat itu lagi ada acara, kita ga bisa parkir di gerbang utama Tahura dan harus pindah ke lahan parkir yang dekat dengan pintu belakang. Dari sana agak susah menemukan Armor Kopi (khusus untuk first timer) karena Armor Kopi tepat di sebelah gerbang utama Tahura. Ngomong-ngomong tiket masuk ke Tahura sebesar 11,000 aja.
To be honest, I'm not a fan of coffee. My brain wants it but my body rejects it. So gue dengan pasrah pesan Milk Tea.
Timing is paramount. Kami kesini sekitar jam 10 an terus balik sekitar jam 11.30. Saat itu ketika kita mau pulang, yang lain malah baru pada sampe, jadinya ketika kita datang kesana ga terlalu rame di Tahura nya, ya tapi klo di Armor tetep rame sih.
Cafe D' Pakar
Off from Tahura, kita langsung cari makan di cafe D' Pakar. Lagi-lagi gue tekanin di sini kalau timing is paramount, ketika sampai sini masih ada beberapa tempat duduk yang kosong dan kita bisa langsung duduk.
Ohya, sistem memesan makanan di sini sama seperti kita kalau makan di Solaria, pesan dan langsung bayar di kasir. Pelayanannya termasuk yang cepat kalau melihat jumlah pengunjung yang datang pada saat itu.
Ya Allah Alhamdulillah banget pas kita kesana, Bandung lagi ga hujan, awan putih dan langit biru di mana-mana. Aku suka kaaaa~
Alhasil kita emang agak lamaan di sana karena selain tempatnya emang instagram-able, juga banyak yang ijo-ijo, which we hardly find in downtown :(
Lagi-lagi, ketika kita mau pergi dari kafe ini, alhamdulillah banget ya Allah kita masuk dan keluar kafe di saat yang tepat, sekitar jam 1.30 an. Ternyata antrian di kafe ini panjang banget bahkan ketika kita baru berangkat dan ngelewatin parkiran kafe, udah banyak mobil dan pejalan kaki yang mau masuk ke kawasan kafe D' Pakar ini. Alhadulillah!!
Solat di Masjid Salman ITB
Uhhh siapa yang ga mau dapat gebetan anak ITB? Hahahaa..
Untung gue dan Agis muka nya masih college-able. #ngarep
Pertama kali ke sini langsung takjub kok hari minggu pun anak ITB masih berkeliaran di kampus. Luar biasa.
Pada saat wudhuan, cuaca disini agak sedikit mendung emang, apalagi pas ngeliat masjid di dalamnya, makin mau tidur saking ademnya. Pas keluar ternyata udah gerimis dan akhirnya mampir dulu ke Sushi Origami.
Sushi Origami ITB
Dapat rekomendasi ini dari sahabat ku tercinta, Laressa. Katanya kalau ke Bandung jangan lupa icip sushi di sini, soalnya chef nya itu pernah kerja di Sushi Tei. Untuk harga yang termasuk murah, sushi ini emang worth it dicoba sih. Soalnya emang beneran enak (buat harga segitu ya). Walaupun beras yang dipakai beras biasa (kata lidah gue gitu), tapi rasa yang dihadirkan di Sushi Origami ini udah bisa bikin puas!
LOL (Lick Over Lips)
Setelah makan di D' Pakar dan Sushi Origami, perut masih aja loh mau yang manis-manis. Akhirnya setelah solat Zuhur kami pun pergi ke LOL, kedai es krim yang lagi ngehits banget di Instagram. Gue ga suka moto makanan jadi gue kasih research gue aja ya soal es krim satu ini.
Karena kita bakal makan nasi goreng bistik di Astana Anyar, kami pun cuma pesan yang small cups. Cuma 20,000 aja loh. Small cup dapat dua scoop dan bisa pilih mau rasa apa aja. I chose Rum Raisin and Green Tea flavours. Bahagia gue! Alhamdulillah!
AA Bistik
Kenyang sama es krim, akhirnya kita memutuskan untuk take away si nasi goreng bistik legend ini. I've never heard about it but once Agis tell me, I better believe her. Harga per bungkusnya 18,000 dan itu udah kenyang banget! Nasi gorengnya beneran enak dan sayang karena gue lagi sariawan dan abis dari dokter gigi benerin behel gue, akhirnya pun gue nyerah buat makan ini. Ga bisa abisin karena mulut sakit ngunyah terus :(
Itulah sekian itinerary gue dan kawan-kawan satu hari di Bandung. Semoga bisa jadi masukan buat yang emang suka berburu kuliner di Bandung.
Karena terlalu banyak video yang gue ambil di kamera Xiaomi gue dan Ade, akhirnya lahirlah video singkat perjalanan satu hari kita. Silahkan di cek! :D